Selasa, 08 Mei 2012

CIMANGGUNG SEBAGAI TEMPAT TRADISI PEMUJAAN


Cimanggung  adalah salah satu nama RT yang berada di Dusun Sukajaya, desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Dusun Sukajaya merupakan perkampungan dengan udara yang segar dan sejuk jauh dari polusi udara. Pesona alam yang indah di tumbuhi berbagai  jenis tumbuhan, hamparan sawah yang menghijau serta langit yang biru menambah keindahan alam sekitar. Penduduk yang banyak serta ramah menjadikan suasana desa yang  ramai, serta deretan pertokoan di pinggir jalan bagaikan kota ditengah-tengah desa.
Kenapa di sebut Cimanggung? Sebenarnya nama Cimanggung sudah ada dari dulu, sampai sekarang masih terkenal sebagai tempat kecelakaan, maka berhati-hati ketika sedang mengendarai kendaraan, kondisi jalan yang kurang baik serta tanjakan yang berliku. Di sukajaya masih ada tempat-tempat yang dianggap mistis atau keramat. Menurut Ibu saya, Pada zaman nenek saya masih hidup, ada tempat pemujaan yang berada di Cimanggung atau sekarang telah menjadi lapangan olahraga yang digunakan oleh murid-murid MTSN MAPARAH.
Tempat saya sekolah dulu, di tempat yang dijadikan lapangan olahraga terdapat makam yang masih berkaitan dengan asal usul Situ Panjalu, warga sekitar tidak mengetahui siapa yang di makamkan di tempat tersebut. Tetapi warga menduga kalau yang di makamkan di tempat tersebut adalah orang yang memiliki kesaktian luar biasa  yang melarikan diri kemudian meninggal dan di makamkan di tempat tersebut.
Makam tersebut dijadikan sebagai tempat untuk peziarah yang datang dari warga sekitar. Tidak banyak peziarah yang menginap di makam, ada yang meminta supaya usahanya mendapatkan keuntungan yang banyak, atau hanya untuk memperdalam ilmu kekebalan, dll. Selain di Cimanggung, tempat ziarah terdapat di Situ Panjalu yang banyak di datangi oleh peziarah yang datang dari luar Pulau Jawa. Di dekat makam tersebut terdapat pohon besar banyak nama yang sering di sebutkan untuk pohon itu diantaraanya pohon kaboa,pohon pakel,pohon beringan, pohon itu di diami oleh arwah yang di makamkan.
Di sekitar pohon yang sangat rindang menjadikan suasana yang sangat gelap karena masih banyak hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, tidak ada satu orang pun yang berani berjalan melewati pohon karena pada saat itu belum ada jalan untuk kendaraan hanya jalan setapak yang mereka gunakan. Pohon tersebut sering dijadikan tempat pemujaan oleh orang tua zaman dulu, karena pada waktu itu mereka belum menganut agama islam seperti sekarang. Setiap musim padi berlangsung, mereka harus menyediakan sesajen untuk di bawa dan di simpan di bawah pohon yang rindang.
Kemudian mereka meminta keselamatan agar diberikan kesehatan dan terhindar dari bahaya serta meminta agar hasil padi yang mereka panen melimpah ruah. Sebagian dari sesajen di simpan di setiap sudut-sudut sawah milik warga. Upacara pemujaan seperti itu hampir sama dengan Sedekah Bumi yang berada di Jawa Tengah. Berbeda dengan zaman sekarang adat-adat seperti itu sudah hilang, mereka menggantinya dengan memberikan pupuk yang banyak agar hasil padi yang mereka dapatkan mendapat keuntungan yang lebih banyak.
Pada zaman dulu agama yang mereka anut adalah agama Hindu, karena pada waktu itu masih jarang yang menjadi kiayi, mereka harus mencari ilmu keluar dari daerah Panjalu. Setelah cukup belajar agama islam mereka kembali ke daerahnya untuk menyebarkan ajaran islam. Sampai saat ini agama islam berkembang di daerah Panjalu.
Sekarang Cimanggung tidak lagi gelap karena pohon besar telah di tebang oleh warga sekitar dan penghuninya di pindahkan serta di tetapkan oleh orang-orang yang ahli dalam hal tersebut. Cimanggung menjadi ramai karena sudah ada jalan untuk kendaraan serta rumah-rumah warga yang berada di sekitar lapang, sekolah, dan Pondok Pesantren tempat mengaji anak-anak yang bersekolah di lingkungan sekitar. Tetapi di sekitar tersebut masih angker banyak warga yang celaka ketika berkendaraan.
Masih banyak tempat yang dijadikan tempat pemujaan, namun sekarang tempat tersebut tidak lagi digunakan, karena banyak warga yang bersifat panatik. Ketika berada di tempat yang dianggap keramat, kita harus menjaga ucapan, tingkah laku, berdzikir serta selalu mengingat kepada ALLAH SWT  untuk meminta perlindungan dan keselamatan. 
Terlepas dari semua itu, kita sebagai penerus bangsa yang memiliki keimanan dan ke takwaan kepada ALLAH SWT serta berilmu luhur, berpikir secara rasional, tidak boleh mempercayai tentang hal-hal yang berbau mistik atau keramat. Karena tempat ziarah hanya sebagai perantara, sama halnya kita berziarah ketempat Wali Songo. Walaupun di sekitar kita masih banyak tempat-tempat yang di anggap keramat, kita hanya dapat mengetahui dan tidak untuk di percayai, jangan sampai meminta-minta kepada kuburan dan ingin di doakan oleh orang yang sudah mati. Karena hal seperti itu sama dengan kita  menyekutukan ALLAH SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar