Cimanggung adalah salah satu nama RT yang berada di
Dusun Sukajaya, desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Dusun
Sukajaya merupakan perkampungan dengan udara yang segar dan sejuk jauh dari
polusi udara. Pesona alam yang indah di tumbuhi berbagai jenis tumbuhan, hamparan sawah yang menghijau
serta langit yang biru menambah keindahan alam sekitar. Penduduk yang banyak
serta ramah menjadikan suasana desa yang
ramai, serta deretan pertokoan di pinggir jalan bagaikan kota
ditengah-tengah desa.
Kenapa
di sebut Cimanggung? Sebenarnya nama Cimanggung sudah ada dari dulu, sampai
sekarang masih terkenal sebagai tempat kecelakaan, maka berhati-hati ketika
sedang mengendarai kendaraan, kondisi jalan yang kurang baik serta tanjakan
yang berliku. Di sukajaya masih ada tempat-tempat yang dianggap mistis atau keramat.
Menurut Ibu saya, Pada zaman nenek saya masih hidup, ada tempat pemujaan yang
berada di Cimanggung atau sekarang telah menjadi lapangan olahraga yang
digunakan oleh murid-murid MTSN MAPARAH.
Tempat
saya sekolah dulu, di tempat yang dijadikan lapangan olahraga terdapat makam
yang masih berkaitan dengan asal usul Situ Panjalu, warga sekitar tidak
mengetahui siapa yang di makamkan di tempat tersebut. Tetapi warga menduga
kalau yang di makamkan di tempat tersebut adalah orang yang memiliki kesaktian
luar biasa yang melarikan diri kemudian meninggal
dan di makamkan di tempat tersebut.
Makam
tersebut dijadikan sebagai tempat untuk peziarah yang datang dari warga
sekitar. Tidak banyak peziarah yang menginap di makam, ada yang meminta supaya
usahanya mendapatkan keuntungan yang banyak, atau hanya untuk memperdalam ilmu
kekebalan, dll. Selain di Cimanggung, tempat ziarah terdapat di Situ Panjalu
yang banyak di datangi oleh peziarah yang datang dari luar Pulau Jawa. Di dekat
makam tersebut terdapat pohon besar banyak nama yang sering di sebutkan untuk
pohon itu diantaraanya pohon kaboa,pohon pakel,pohon beringan, pohon itu di
diami oleh arwah yang di makamkan.
Di
sekitar pohon yang sangat rindang menjadikan suasana yang sangat gelap karena masih
banyak hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, tidak ada satu orang pun
yang berani berjalan melewati pohon karena pada saat itu belum ada jalan untuk
kendaraan hanya jalan setapak yang mereka gunakan. Pohon tersebut sering
dijadikan tempat pemujaan oleh orang tua zaman dulu, karena pada waktu itu
mereka belum menganut agama islam seperti sekarang. Setiap musim padi
berlangsung, mereka harus menyediakan sesajen untuk di bawa dan di simpan di
bawah pohon yang rindang.
Kemudian
mereka meminta keselamatan agar diberikan kesehatan dan terhindar dari bahaya
serta meminta agar hasil padi yang mereka panen melimpah ruah. Sebagian dari
sesajen di simpan di setiap sudut-sudut sawah milik warga. Upacara pemujaan
seperti itu hampir sama dengan Sedekah Bumi yang berada di Jawa Tengah. Berbeda
dengan zaman sekarang adat-adat seperti itu sudah hilang, mereka menggantinya
dengan memberikan pupuk yang banyak agar hasil padi yang mereka dapatkan
mendapat keuntungan yang lebih banyak.
Pada
zaman dulu agama yang mereka anut adalah agama Hindu, karena pada waktu itu
masih jarang yang menjadi kiayi, mereka harus mencari ilmu keluar dari daerah
Panjalu. Setelah cukup belajar agama islam mereka kembali ke daerahnya untuk
menyebarkan ajaran islam. Sampai saat ini agama islam berkembang di daerah
Panjalu.
Sekarang
Cimanggung tidak lagi gelap karena pohon besar telah di tebang oleh warga
sekitar dan penghuninya di pindahkan serta di tetapkan oleh orang-orang yang
ahli dalam hal tersebut. Cimanggung menjadi ramai karena sudah ada jalan untuk
kendaraan serta rumah-rumah warga yang berada di sekitar lapang, sekolah, dan
Pondok Pesantren tempat mengaji anak-anak yang bersekolah di lingkungan
sekitar. Tetapi di sekitar tersebut masih angker banyak warga yang celaka
ketika berkendaraan.
Masih
banyak tempat yang dijadikan tempat pemujaan, namun sekarang tempat tersebut
tidak lagi digunakan, karena banyak warga yang bersifat panatik. Ketika berada
di tempat yang dianggap keramat, kita harus menjaga ucapan, tingkah laku,
berdzikir serta selalu mengingat kepada ALLAH SWT untuk meminta perlindungan dan keselamatan.
Terlepas
dari semua itu, kita sebagai penerus bangsa yang memiliki keimanan dan ke
takwaan kepada ALLAH SWT serta berilmu luhur, berpikir secara rasional, tidak
boleh mempercayai tentang hal-hal yang berbau mistik atau keramat. Karena
tempat ziarah hanya sebagai perantara, sama halnya kita berziarah ketempat Wali
Songo. Walaupun di sekitar kita masih banyak tempat-tempat yang di anggap
keramat, kita hanya dapat mengetahui dan tidak untuk di percayai, jangan sampai
meminta-minta kepada kuburan dan ingin di doakan oleh orang yang sudah mati. Karena
hal seperti itu sama dengan kita
menyekutukan ALLAH SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar