Senin, 02 Januari 2012

KERAJAAN MATARAM

Kerajaan Mataram Kuno
Istilah Wangsa Sanjaya Diperkenalkan Oleh Seorang Sejarawan Bernama Dr. Bosch Dalam Karangannya Yang Berjudul Sriwijaya, De Syailendrawamsa En De Sanjayawamsa (1952). Dr. Bosch Menyebutkan Bahwa, Di Kerajaan Medang Terdapat Dua Dinasti Yang Berkuasa, Yaitu Dinasti Sanjaya Dan Dinasti Syailendra. Istilah Wangsa Sanjaya Merujuk Kepada Nama Pendiri Kerajaan Medang, Yaitu Sanjaya Yang Memerintah Sekitar Tahun 732. Dinasti Ini Diyakini Menganut Agama Hindu Aliran Siwa, Dan Berkiblat Ke Kunjaradari Di Daerah India.

Raja Selanjutnya Setelah Sanjaya Adalah Rakai Panangkaran Yang Dikalahkan Oleh Dinasti Lain Bernama Wangsa Syailendra. Pada Tahun 778 Raja Syailendra Yang Beragama Buddha Aliran Mahayana Memerintahkan Rakai Panangkaran Untuk Mendirikan Candi Kalasan. Sejak Saat Itu Kerajaan Medang Mutlak Dikuasai Oleh Wangsa Syailendra. Sampai Akhirnya Seorang Putri Mahkota Syailendra Yang Bernama Pramodawardhani Menikah Dengan Rakai Pikatan, Seorang Keturunan Sanjaya, Pada Tahun 840. Rakai Pikatan Kemudian Mewarisi Takhta Mertuanya. Dengan Demikian, Wangsa Sanjaya Kembali Memegang Kekuasaan Di Kerajaan Medang.

Namun Ada Juga Teori Yang Menolak Pandangan Pertama Tadi, Sejarawan Poerbatjaraka Menolak Keberadaan Wangsa Sanjaya. Menurutnya, Wangsa Sanjaya Tidak Pernah Ada, Karena Sanjaya Sendiri Adalah Keturunan Wangsa Syailendra. Dinasti Ini Mula-Mula Beragama Hindu, Karena Istilah Syailendra Bermakna Penguasa Gunung Yaitu Sebutan Untuk Dewa Siwa. Selain Itu Menurutnya, Istilah Sanjayawangsa Tidak Pernah Dijumpai Dalam Prasasti Mana Pun, Sedangkan Istilah Syailendrawangsa Ditemukan Dalam Beberapa Prasasti, Misalnya Prasasti Ligor, Prasasti Kalasan, Dan Prasasti Abhayagiriwihara.

Poerbatjaraka Berpendapat Bahwa, Sanjaya Telah Memerintahkan Agar Putranya, Yaitu Rakai Panangkaran Pindah Agama, Dari Hindu Menjadi Buddha. Teori Ini Berdasarkan Atas Kisah Dalam Carita Parahyangan Bahwa Rahyang Sanjaya Menyuruh Rahyang Panaraban Untuk Berpindah Agama. Dengan Demikian, Yang Dimaksud Dengan Istilah Raja Syailendra Dalam Prasasti Kalasan Tidak Lain Adalah Rakai Panangkaran Sendiri.

Carita Parahyangan Memang Ditulis Ratusan Tahun Sesudah Kematian Prabu Sanjaya. Meskipun Demikian, Kisah Di Atas Seolah Terbukti Dengan Ditemukannya Sebuah Prasasti Yang Mengisahkan Tentang Seorang Pangeran Bernama Sankhara Yang Pindah Agama Karena Ayahnya Meninggal Dunia Akibat Menjalani Ritual Terlalu Berat. Sayangnya, Prasasti Ini Tidak Jelas Angka Tahunnya, Serta Tidak Menyebutkan Siapa Nama Ayah Sankhara Tersebut.

Teori Poerbatjaraka Menyebutkan Bahwa Hanya Ada Satu Dinasti Saja Yang Berkuasa Di Kerajaan Medang, Yaitu Wangsa Syailendra Yang Beragama Hindu Siwa. Sejak Pemerintahan Rakai Panangkaran, Dinasti Syailendra Terpecah Menjadi Dua. Agama Buddha Dijadikan Agama Resmi Negara, Sedangkan Cabang Syailendra Lainnya Ada Yang Tetap Menganut Agama Hindu, Misalnya Seseorang Yang Kelak Menurunkan Rakai Pikatan.

Meskipun Istilah Sanjayawangsa Tidak Pernah Dijumpai Dalam Prasasti Mana Pun, Namun Istilah Sanjayawarsa Atau Kalender Sanjaya Ditemukan Dalam Prasasti Taji Gunung Dan Prasasti Timbangan Wungkal. Kedua Prasasti Tersebut Dikeluarkan Oleh Mpu Daksa Dengan Tujuan Untuk Menunjukkan Bahwa Dirinya Adalah Keturunan Asli Sanjaya, Sang Pendiri Kerajaan. Tahun 1 Sanjayawarsa Sama Dengan Tahun 717 Masehi. Tidak Diketahui Dengan Pasti Apakah Tahun 717 Ini Merupakan Tahun Kelahiran Sanjaya, Ataukah Tahun Berdirinya Kerajaan.

Daftar Para Raja Medang Sebelum Dyah Balitung Yang Tertulis Dalam Prasasti Mantyasih Menurut Teori Bosch Adalah Daftar Para Raja Wangsa Sanjaya, Sekaligus Juga Silsilah Keluarga Mulai Dari Sanjaya Sampai Balitung.
Para Raja Tersebut Ialah:
* Sanjaya
* Rakai Panangkaran
* Rakai Panunggalan
* Rakai Warak
* Rakai Garung
* Rakai Pikatan
* Rakai Kayuwangi
* Rakai Watuhumalang

Sedangkan Sejarawan Slamet Muljana Mengemukakan Pendapat Yang Lain Lagi. Menurutnya, Daftar Tersebut Bukan Silsilah Wangsa Sanjaya, Melainkan Daftar Para Raja Yang Pernah Berkuasa Di Kerajaan Medang. Pendapatnya Itu Berdasarkan Atas Julukan Rakai Panangkaran Dalam Prasasti Kalasan, Yaitu Syailendrawangsatilaka Atau Permata Wangsa Syailendra. Jadi Menurutnya Tidak Mungkin Apabila Rakai Panangkaran Adalah Putra Sanjaya. Analisa Slamet Muljana Terhadap Beberapa Prasasti, Misalnya Prasasti Kelurak, Prasasti Nalanda, Ataupun Prasasti Kayumwungan Menyimpulkan Bahwa Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Dan Rakai Garung Adalah Anggota Wangsa Syailendra, Sementara Sisanya Adalah Anggota Wangsa Sanjaya, Kecuali Rakai Kayuwangi Yang Berdarah Campuran.

Raja Sesudah Dyah Balitung Adalah Mpu Daksa Yang Memperkenalkan Pemakaian Kalender Sanjaya Untuk Menunjukkan Bahwa Dirinya Adalah Keturunan Asli Sang Pendiri Kerajaan. Selain Itu, Kemungkinan Besar Daksa Juga Merupakan Cucu Rakai Pikatan Sebagaimana Yang Tertulis Dalam Prasasti Telahap. Daksa Digantikan Oleh Menantunya, Bernama Dyah Tulodhong, Yaitu Putra Dari Seseorang Yang Dimakamkan Di Turu Mangambil. Tidak Diketahui Dengan Pasti Apakah Tulodhong Ini Merupakan Keturunan Sanjaya Atau Bukan. Menurut Sejarawan Boechari, Pemerintahan Tulodhong Berakhir Akibat Pemberontakan Dyah Wawa, Putra Rakryan Landhayan. Dalam Hal Ini Juga Tidak Dapat Dipastikan Apakah Wawa Keturunan Sanjaya Atau Bukan.

Raja Selanjutnya Bernama Mpu Sendok Yang Diperkirakan Sebagai Cucu Mpu Daksa. Jika Benar Demikian, Maka Mpu Sindok Dapat Disebut Sebagai Keturunan Sanjaya Pula, Meskipun Ia Dianggap Telah Mendirikan Dinasti Baru Bernama Wangsa Isyana. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya Adalah Raja Pertama Kerajaan Medang Periode Jawa Tengah (Atau Lazim Disebut Kerajaan Mataram Kuno), Yang Memerintah Sekitar Tahun 730. Ratu Sanjaya Alias Rakai Mataram Menempati Urutan Pertama Dalam Daftar Para Raja Kerajaan Medang Versi Prasasti Mantyasih, Yaitu Prasasti Yang Dikeluarkan Oleh Maharaja Dyah Balitung Tahun 907. Sanjaya Sendiri Mengeluarkan Prasasti Canggal Tanggal 6 Oktober 732 Tentang Pendirian Sebuah Lingga Serta Bangunan Candi Untuk Memuja Siwa Di Atas Sebuah Bukit. Candi Tersebut Kini Hanya Tinggal Puing-Puing Reruntuhannya Saja, Yang Terletak Di Atas Gunung Wukir, Dekat Kedu.

Prasasti Canggal Juga Mengisahkan Bahwa, Sebelum Sanjaya Bertakhta Sudah Ada Raja Lain Bernama Sanna Yang Memerintah Pulau Jawa Dengan Adil Dan Bijaksana. Sepeninggal Sanna Keadaan Menjadi Kacau. Sanjaya Putra Sannaha (Saudara Perempuan Sanna) Kemudian Tampil Sebagai Raja. Pulau Jawa Pun Tentram Kembali. Prasasti Canggal Tidak Menyebutkan Nama Kerajaan Yang Dipimpin Oleh Sanna Dan Sanjaya. Sementara Itu Prasasti Mantyasih Menyebut Sanjaya Sebagai Raja Pertama Kerajaan Medang, Sedangkan Sanna Sama Sekali Tidak Disebut. Mungkin Sanna Memang Bukan Raja Kerajaan Medang. Dengan Kata Lain, Sanjaya Mewarisi Takhtanya Namun Mendirikan Sebuah Kerajaan Baru Yang Berbeda. Kisah Yang Serupa Terjadi Pada Akhir Abad Ke-13, Yaitu Raden Wijaya Raja Pertama Majapahit Adalah Pewaris Takhta Kertanagara Raja Terakhir Singhasari.

Pada Zaman Kerajaan Medang Terdapat Suatu Tradisi Mencantumkan Jabatan Lama Di Samping Gelar Sebagai Maharaja. Misalnya, Raja Yang Mengeluarkan Prasasti Mantyasih (907) Adalah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu. Itu Artinya, Jabatan Lama Dyah Balitung Sebelum Menjadi Raja Kerajaan Medang Adalah Kepala Daerah Watukura. Sementara Itu Gelar Sanjaya Sebagai Raja Adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Mungkin Ketika Sanna Masih Berkuasa, Sanjaya Menjabat Sebagai Kepala Daerah Mataram (Daerah Yogyakarta Sekarang). Kemudian, Karena Sanjaya Dianggap Mendirikan Kerajaan Baru Bernama Medang, Maka Istananya Mungkin Terletak Di Daerah Kekuasaannya, Yaitu Mataram Sebagai Ibu Kota. Adapun Pada Masa Pemerintahan Dyah Balitung, Ibu Kota Kerajaan Medang Sudah Berpindah Ke Poh Pitu.

Apabila Sanjaya Naik Takhta Tahun 717, Berarti Saat Prasasti Canggal (732) Dikeluarkan, Kerajaan Medang Sudah Berusia 15 Tahun. Sementara Itu Apabila 717 Adalah Tahun Kelahiran Sanjaya, Berarti Saat Mengeluarkan Prasasti Canggal Ia Masih Berusia 15 Tahun Dan Sudah Menjadi Raja. Dengan Kata Lain, Sanna Mengangkat Sanjaya Sebagai Kepala Daerah Mataram Sejak Masih Anak-Anak (Sama Seperti Jayanagara Pada Zaman Majapahit).

Naskah Carita Parahyangan Ditulis Sekitar Abad Ke-16, Jadi Berselang Ratusan Tahun Sejak Kematian Sanjaya. Dikisahkan, Nama Asli Sanjaya Adalah Rakeyan Jambri, Sedangkan Sanna Disebut Dengan Nama Bratasenawa, Atau Disingkat Sena. Sena Adalah Raja Kerajaan Galuh Yang Berhasil Dikalahkan Oleh Saudara Tirinya, Bernama Purbasora. Putra Sena, Yaitu Rahyang Sanjaya Alias Rakeyan Jambri Telah Menjadi Menantu Tarusbawa Raja Kerajaan Sunda. Dengan Bantuan Mertuanya Itu, Sanjaya Berhasil Mengalahkan Purbasora Tujuh Tahun Kemudian. Sanjaya Kemudian Menyerahkan Takhta Kerajaan Galuh Kepada Demunawan, Adik Purbasora. Hal Ini Ditolak Oleh Rahyang Sempakwaja, Ayah Purbasora Karena Takut Kelak Demunawan Akan Ditumpas Pula Oleh Sanjaya. Sanjaya Terpaksa Menduduki Sendiri Takhta Kerajaan Tersebut.

Karena Sanjaya Juga Bertakhta Di Kerajaan Sunda, Maka Pemerintahannya Di Galuh Diserahkan Kepada Premana Dikusumah, Cucu Purbasora. Sedangkan Putra Sanjaya Yang Bernama Rahyang Tamperan Dijadikan Sebagai Patih Untuk Mengawasi Pemerintahan Premana.Karena Merasa Tertekan, Premana Akhirnya Memilih Pergi Bertapa. Istrinya Yang Bernama Pangreyep, Seorang Putri Sunda, Berselingkuh Dengan Tamperan Sehingga Melahirkan Rahyang Banga. Tamperan Kemudian Mengirim Utusan Untuk Membunuh Premana. Setelah Sanjaya Menjadi Raja Di Mataram, Wilayah Sunda Dan Galuh Pun Dijadikan Satu Di Bawah Pemerintahan Tamperan. Kemudian Terjadi Pemberontakan Manarah Putra Premana Yang Berhasil Menewaskan Tamperan. Sedangkan Putranya, Yaitu Banga Lolos Dari Kematian.

Mendengar Berita Kematian Putranya, Sanjaya Pun Menyerang Manarah. Perang Besar Terjadi Akhirya Didamaikan Oleh Demunawan (Adik Purbasora). Akhirnya Dicapai Sebuah Kesepakatan, Yaitu Banga Sebagai Raja Sunda, Sedangkan Manarah Sebagai Raja Galuh. Carita Parahyangan Terlalu Berlebihan Dalam Memuji Kekuatan Sanjaya Yang Diberitakan Selalu Menang Dalam Setiap Peperangan. Konon, Sanjaya Bahkan Berhasil Menaklukkan Melayu, Kamboja, Dan Cina. Padahal Sebenarnya, Penaklukan Sumatra Dan Kamboja Baru Terjadi Pada Pemerintahan Dharanindra, Raja Ketiga Kerajaan Medang.

Sanjaya Di Jawa Barat Juga Dikenal Dengan Sebutan Prabu Harisdarma. Ia Meninggal Dunia Karena Jatuh Sakit Akibat Terlalu Patuh Dalam Menjalankan Perintah Guru Agamanya. Dikisahkan Pula Bahwa Putranya Yang Bernama Rahyang Panaraban Diperintah Untuk Pindah Ke Agama Lain, Karena Agama Sanjaya Dinilai Terlalu Menakutkan. Menurut Prasasti Mantyasih, Sanjaya Digantikan Oleh Maharaja Rakai Panangkaran Sebagai Raja Berikutnya. Raja Kedua Ini Mendirikan Sebuah Bangunan Buddha, Yaitu Candi Kalasan Atas Permohonan Para Guru Raja Syailendra Pada Tahun 778. Berdasarkan Berita Tersebut, Muncul Beberapa Teori Tentang Hubungan Sanjaya Dengan Rakai Panangkaran.

Teori Pertama Dipelopori Oleh Van Naerssen Menyebutkan Bahwa, Rakai Panangkaran Adalah Putra Sanjaya Yang Beragama Hindu. Ia Dikalahkan Oleh Wangsa Syailendra Yang Beragama Buddha. Jadi, Pembangunan Candi Kalasan Ialah Atas Perintah Raja Syailendra Terhadap Rakai Panangkaran Yang Menjadi Bawahannya. Teori Kedua Dipelopori Oleh Porbatjaraka Yang Menyebutkan Bahwa, Rakai Panangkaran Adalah Putra Sanjaya, Dan Keduanya Merupakan Anggota Wangsa Syailendra. Dengan Kata Lain, Wangsa Sanjaya Tidak Pernah Ada Karena Tidak Pernah Tertulis Dalam Prasasti Apa Pun. Menurut Teori Ini, Rakai Panangkaran Pindah Agama Atas Perintah Sanjaya Sebelum Meninggal. Tokoh Ini Dianggap Identik Dengan Rahyang Panaraban Dalam Carita Parahyangan. Jadi, Yang Dimaksud Dengan Istilah Para Guru Raja Syailendra Dalam Prasasti Kalasan Tidak Lain Adalah Para Guru Rakai Panangkaran Sendiri.

Teori Ketiga Dipelopori Oleh Slamet Muljana Bertentangan Dengan Kedua Teori Di Atas. Menurutnya, Rakai Panangkaran Bukan Putra Sanjaya, Melainkan Anggota Wangsa Syailendra Yang Berhasil Merebut Takhta Kerajaan Medang Dan Mengalahkan Wangsa Sanjaya. Teori Ini Didasarkan Pada Daftar Para Raja Dalam Prasasti Mantyasih Di Mana Hanya Sanjaya Yang Bergelar Sang Ratu, Sedangkan Penggantinya Tiba-Tiba Begelar Maharaja. Selain Itu, Rakai Panangkaran Tidak Mungkin Berstatus Sebagai Raja Bawahan, Karena Ia Dipuji Sebagai Syailendrawangsatilaka Dalam Prasasti Kalasan.

Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana Adalah Raja Kedua Kerajaan Medang Periode Jawa Tengah (Atau Yang Lazim Disebut Kerajaan Mataram Kuno). Ia Memerintah Sekitar Tahun 770-An. Maharaja Rakai Panangkaran Adalah Raja Kedua Dalam Daftar Raja-Raja Kerajaan Medang Versi Prasasti Mantyasih, Yang Naik Takhta Menggantikan Sanjaya. Prasasti Atas Nama Rakai Panangkaran Yang Sudah Ditemukan Adalah Prasasti Kalasan Tahun 778 Tentang Pembangunan Sebuah Candi Buddha Untuk Memuja Dewi Tara. Pembangunan Ini Atas Permohonan Para Guru Raja Syailendra. Dalam Prasasti Itu Ia Dipuji Sebagai Syailendrawangsatilaka Atau Permata Wangsa Syailendra. Candi Peninggalan Rakai Panangkaran Tersebut Sekarang Dikenal Dengan Sebutan Candi Kalasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar